Home / Otomotif / 5 Kerugian Modifikasi Motor yang Tanpa Peduli Aturan

5 Kerugian Modifikasi Motor yang Tanpa Peduli Aturan

Modifikasi motor itu bukan sekadar bikin tunggangan beda dan enggak pasaran. Bagi sebagian orang, modifikasi itu semacam karya seni. Seperti halnya karya seni, wajar dong banyak aliran dalam modifikasi si kuda besi. Alirannya seperti Jap’s Style, Café Racer, Supermoto, Street Fighter, Chopper Style, sampai Sport Fashion.

Motor yang sudah dimodifikasi jadi terkesan personal dan tampil beda, lebih gaul, lebih gaya, sampai gampang dilirik kaum hawa.

Aturan modifikasi di Indonesia sendiri masih abu-abu. Belum ada aturan detail soal ini yang dimasukkan dalam undang-undang. Bahkan peraturan mengenai perubahan konstruksi rangka dan bodi belum diatur detail.

Meski begitu ada beberapa batasan yang mesti dicermati para modifikator sebelum mengoprek-oprek tunggangannya. Contoh konkretnya ganti knalpot.

Dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengancam pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu kalau knalpotnya bikin bising. Dengan adanya aturan ini, modifikasi motor sama saja buang-buang duit.

Nah, berikut kerugian kalau sembarangan modifikasi motor yang dirangkum Kitaberkata.com :

1. Rugi waktu kena razia

Motor yang sudah dimodif pastinya mencolok mata. Bukan hanya mencolok mata pengguna jalan lain, tapi juga polisi.

Polisi paling demen menyetop motor-motor yang dimodifikasi. Terus bakal dicek apakah modifikasi itu sampai melanggar peraturan lalu lintas.

Misalnya saja dengan mengdopsi knalpot freeflow yang bikin bising.  Dalam aturan dijelaskan ambang batas kebisingan sepeda motor untuk kubikasi mesin 80 cc ke bawah maksimal 85 desibel (dB).

Lalu kubikasi 80-175cc maksimal 90 db, dan 175cc ke atas maksimal 90 db. Kalau melanggar, siap-siap saja kena tilang dengan denda Rp 250 ribu.

BACA JUGA  Motor Custom Chopper dengan Kearifan Lokal

Terus modifikasi ban cacing lantaran ingin tunggangannya beraliran Thai Look. Modifikasi ini membuat tampilan motor jadi cungkring alias minimalis banget.

Sayangnya, modif ini bikin motor tidak aman di jalanan Indonesia yang kondisinya…, tahu sendiri kan? Sudah gitu, bisa membahayakan pengguna jalan lain.

Kemudian hati-hati ganti headlamp. Camkan Pasal 24 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan di mana sepeda motor harus dilengkapi dengan lampu utama dekat dan lampu utama jauh paling banyak dua buah.

Lampu itu dapat memancarkan cahaya paling sedikit 40 meter ke arah depan untuk lampu utama dekat dan 100  meter ke arah depan untuk lampu utama jauh. Tuh ada aturannya.

2. Rugi kalau kecelakaan

Pabrikan selalu menghitung dengan cermat semua sepeda motor yang dilepas ke pasaran. Bukan hanya model dan mesinnya yang diklaim kuat dan tahan lama, tapi juga faktor safety.

Pabrikan bertanggung jawab penuh atas produknya. Makanya, merilis model motor terbaru enggak bisa sembarangan.

Nah, kadang modifikator suka mengorbankan faktor safety ini demi tampil modis sama tunggangan. Misalnya saja pakai ban cacing yang warna-warni. Ingin dapatkan kesan trendi tapi lupakan faktor safety.

Memang sih, ban cacing bikin bobot motor lebih ringan. Maklumlah, ban menyumbang 15 sampai 20 persen bobot motor.

Ban jenis ini dipercaya bikin motor jadi yahud saat digeber. Masalahnya kontur jalanan di sini enggak cocok sama model ban itu. Masih banyak lubang dan tingkat ratanya tak sama sehingga rawan banget jatuh.

Terus enggak hati-hati dalam aplikasi box motor. Kehadiran box motor walaupun terbuat dari plastik saja sudah berat. Belum lagi pas dipasang butuh bracket besi. Ini jelas menambah bobot motor dan menuntut keseimbangan tinggi saat mengendarainya.

BACA JUGA  Hampir Punah, Ini Dia Nenek Moyang Skuter Matic Di Indonesia, Vespa Corsa 125

Pendek kata, sembarangan modif yang bikin kendaraan enggak safety terus enggak dilindungi asuransi jiwa dan kesehatan, makin sempurnalah kesembronoan terhadap diri sendiri.

3. Rugi karena garansi pabrik hilang

Motor kinyis-kinyis yang baru keluar dari pabrikan selalu disertai garansi dalam jangka waktu tertentu. Garansi ini jadi jaminan kalau motor itu terbebas dari kesalahan perakitan maupun bahan.

Misalnya saja Yamaha yang berani menggaransi mesin sampai 5 tahun. Sedangkan Honda 3 tahun.

Cuma garansi ini ada ketentuannya lho! Pabrikan bakalan acuhkan klaim jika motor sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menggugurkan garansi.

Gampangannya modifikasi yang berhubungan sama tarikan mesin macam stroke up, bore up, atau camshaft (noken as). Kemudian juga garansi tak berlaku jika spare part yang dipakai bukan orisinal.

Oh ya ada lagi nih, pasang perlengkapan tambahan atau aksesori seperti boks bisa pula menggugurkan garansi. Baca dengan teliti pemasangan aksesori ini. Biasanya garansi tetap berlaku selama aksesori itu statusnya OEM (Original Equipmet Manufacture).

Pabrikan pastinya enggak mau disalahkan kalau ada pemilik motor kenapa-napa gara-gara salah modifikasi. Lagi pula pihak pabrikan sudah memberikan buku petunjuk penggunaan motor yang wajar dan aman.

Apalagi kalau statusnya kredit, modifikasi yang sembarangan bisa menghilangkan garansi pabrikan yang membuat kalau kendaraan itu bermasalah di kemudian hari bisa repot mengurusnya.

4. Rugi enggak bisa klaim asuransi

Ini buat motor yang sudah dilengkapi asuransi di mana pemilik kadang abai dengan aturan soal modifikasi. Maklumlah, meski tampang standar pabrikan sudah keren, tapi tetap saja banyak pemilik yang gatal memodifikasinya.

Masalahnya, modifikasi motor jenis ini selain lumayan mahal juga ada peluang klaim asuransinya ditolak. Jelas ditolak kalau ubahan yang ada di motor itu enggak dilaporkan terlebih dulu ke pihak asuransi.

BACA JUGA  Motor Pakai Spion Jalu, Bolehkah?

Selain itu, pihak asuransi juga punya ketentuan sejauh mana modifikasi itu bisa diterima klaimnya. Mungkin kalau sebatas penggunaan aksesori masih bisa.

Lha, kalau ubahannya sudah mengobrak-abrik rangka sampai mesin yang tak standar pabrikan? Tentu mesti negosiasi dulu sama pihak asuransi.

5. Rugi terserempet kasus hukum

Kebanyakan bikers kurang puas sama performa mesin pabrikan. Alhasil, oprekan mesin jadi paling banyak diminati. Tujuannya satu, motor bisa melesat saat digeber.

Begitu merasa tunggangan paling kencang, muncul deh motif ikutan balap liar. Ajang itu seolah jadi pembuktian kalau motor kesayangan jadi yang paling ewes-ewes sejagad raya.

Jelas saja ikutan balap liar melanggar hukum banget. Banyak pasal yang bisa dikenai. Mulai dari menganggu ketertiban umum, ugal-ugalan di jalan, sampai membahayakan pengguna jalan lain dan diri sendiri.

Sayangnya, kesadaran bahayanya balap liar masih rendah. Rata-rata masih pada kucing-kucingan sama polisi. Begitu polisi enggak patroli dan lengah, jalanan yang mulus dan lurus langsung berubah jadi sirkuit dadakan.

Sumber : Dari berbagai sumber

Check Also

Mau Beli Mobil? Kenali Jenis Jenis Mobil Berdasarkan Fungsinya

Mobil merupakan salah satu kendaraan yang sekarang sudah banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *