Thursday , October 29 2020
Home / Religius / Makna Dari Tradisi Ogoh-Ogoh di Bali
image source : nasional.tempo.co

Makna Dari Tradisi Ogoh-Ogoh di Bali

Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang sedang berkunjung ke Bali, bertanya tanya tentang. Apa sih tujuan atau makna dari ogoh-ogoh itu. Biar lebih jelas Kitaberkata.com akan menjelaskan makna dari tradisi ogoh-ogoh di Bali.

Dalam kepercayaan agama Hindu terdapat sosok yang menyeramkan, Bhuta Kala. Sosok tersebut dapat mengganggu ketentraman dan kedamaian manusia yang ada di muka bumi.

Sebab itu saat perayaannya, dibutuhkan tradisi dalam bentuk boneka Ogoh-Ogoh untuk diarak lalu dibakar.

Pasalnya, Ogoh-ogoh adalah boneka yang dibuat menyerupai makhluk Bhuta Kala. Tradisi ini dilakukan guna menghilangkan pesan atau sisi negatif dari Bhuta Kala tersebut.

Namun, tradisi Ogoh-ogoh yang dilakukan di Bali bukan hanya memiliki unsur keagamaan saja, melainkan terdapat unsur kesenian. Hal ini yang menjadi salah satu faktor utama daya tarik wisatawan yang ingin melihatnya secara langsung.

Tradisi Ogoh-ogoh ini dilakukan hanya setiap tahun sekali pada Hari Raya Nyepi. Meskipun begitu, banyak orang yang senantiasa menunggu dan siap menyambut acara festival Ogoh-ogoh ini.

Karya seni ini biasanya dibuat oleh para pemuda banjar selama sebulan lebih sebelum perayaan Nyepi. Raksasa ini dibuat secara rumit dari kertas berwarna, potongan kaca, suede, perada, bambu, dan bahan lainnya. Dibuat dengan teliti, ogoh-ogoh lebih dari sekedar patung, mereka tampak hidup.

Nama ogoh-ogoh berasal dari Bali “ogah-ogah” yang berarti “mengguncang” dan mewakili kejahatan yang perlu dijauhkan dari manusia. Oleh karena itu pada saat meng-araknya ogoh-ogoh diguncang guncangkan agar terlihat seperti sedang menari.

Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Sejak tahun 80 an, umat hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa dengan membawa obor atau yang disebut acara ngerupuk.

BACA JUGA  Inilah Tradisi Unik Di Bali Yang Dilakukan Saat Galungan

Sebelum memulai pawai ogoh-ogoh para peserta upacara atau pawai biasanya melakukan minum-minuman keras traditional yang dikenal dengan nama arak.

Pada umumnya ogoh-ogoh di arak menuju sutau tempat yang diberi nama sema (tempat persemayaman umat Hindu sebelum dibakar dan pada saat pembakaran mayat) kemudian ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut dibakar.

Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai dengan diiringi irama gamelan khas Bali yang diberi nama bleganjur patung yang dibuat dengan bahan dasar bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngerupuk.

Karena tidak ada hubungannya dengan hari raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara.

Tapi pada pengarakan ogoh-ogoh berkaitan dengan Upacara Tawur Kasanga hari suci Nyepi Tahun Saka 1942, Pemerintah provinsi bali menghimbau masyarakat khusus pemuda di banjar untuk tidak menadakan pengarakan ogoh-ogoh. Terkait dengan wabah virus corona yang sudah sampai di Bali.

Sumber : Dari Berbagai Sumber

Check Also

8 Mаnfааt dаrі Pelaksanaan Hаrі Rауа Nyepi dі Bali

Nуері bеrаѕаl dаrі kаtа ѕері (ѕunуі, ѕеnуар). Hari Raya Nyepi ѕеbеnаrnуа merupakan реrауааn Tаhun Bаru …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *