Friday , September 25 2020
Home / Travel / Pemulihan Pariwisata, Kemenparekraf Siapkan Program CHS

Pemulihan Pariwisata, Kemenparekraf Siapkan Program CHS

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan menerapkan program CHS (Cleanliness, Health, and Safety) untuk pemulihan pariwisata di setiap destinasi maupun lokasi, serta ekonomi kreatif. Hal ini dilakukan sebagai strategi mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pasca-pandemi COVID-19.

Berikut rangkuman dari Kitaberkata,com tentang Pemulihan Pariwisata dengan menerapkan program CHS

Langkah pemulihan pariwisata tersebut, antara lain menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang mengacu pada standar kesehatan, kebersihan, dan keselamatan.

Untuk itu, Kemenparekraf akan menerapkan program Cleanliness, Health, and Safety (CHS) di setiap destinasi maupun lokasi lain terkait pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Gerakan CHS ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi dan industri pariwisata Indonesia usai Covid-19,” ujar Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf) Ni Wayan Giri Adnyani

Ia mengatakan, rincian program pemulihan akan dibahas dan dikomunikasikan ke seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kemenparekraf bekerja sama dengan Kemenkes dan lembaga terkait dalam melakukan survei, verifikasi implementasi SOP CHS dengan baik dan benar sesuai standarisasi yang ditetapkan,” kata Adnyani.

Sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia, Bali ditetapkan menjadi pilot project dalam penerapan program CHS untuk nantinya diimplementasikan ke daerah lainnya di Indonesia.

Dia menambahkan hal itu menjadi tak terelakkan karena pandemi COVID-19 telah membuat perilaku manusia yang baru (new normal).

Di mana masyarakat kini jauh lebih peduli terhadap faktor-faktor kebersihan, kesehatan, dan keamanan, termasuk dalam hal destinasi wisata.

“Gerakan CHS ini bertujuan pulihkan pariwisata dengan meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi dan industri pariwisata Indonesia usai COVID-19, sehingga mendorong peningkatan pergerakan dan kunjungan wisatawan di Indonesia, yang pada tahap awal pasti akan didominasi oleh wisatawan domestik,” katanya.

BACA JUGA  Saat Ini Bali Lawan Virus Corona dan Turis-turis Nakal

Pemulihan Pariwisata dengan Bali sebagai Pilot Projectnya

Dalam pelaksanaan pemulihan pariwisata ini, Bali dipilih menjadi pilot project penerapan program CHS untuk nantinya diimplementasikan ke daerah lain di Indonesia. Pemilihan Bali juga bukan tanpa alasan, karena Pulau Dewata selama ini dikenal sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia.

Bali
Ilustrasi wisatawan berlibur di Bali, Foto: Kemenparekraf

Selain itu, Bali juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan penyebaran COVID-19 yang terkendali, serta penanganan COVID-19 yang sangat bagus. Meskipun menjadi pusat pariwisata dengan banyak wisatawan yang berkunjung, tapi Bali bukanlah wilayah yang menjadi episentrum pandemi COVID-19 di Indonesia. Tercatat hingga saat ini terdapat 332 kasus positif Corona di Bali, 220 orang sembuh dan 4 orang meninggal.

“Penerapan pun akan dilakukan secara bertahap, untuk pertama direncanakan di kawasan Nusa Dua Bali,” tutur kata Ni Wayan Giri Adnyani. Nantinya, konsep Cleanliness (kebersihan) merujuk pada keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya debu, sampah, dan bau. Selain itu, kebersihan juga berarti bebas dari virus, bakteri patogen, dan bahan kimia berbahaya.

Bali
Pemandangan sunset di Bali. Foto: Kemenparekraf

Kemudian Health (kesehatan) merupakan layanan yang menerapkan aturan atau ketentuan kesehatan terhadap manusia dan lingkungan melalui kegiatan pencegahan, perawatan, pemantauan, dan pengendalian. Selain itu, juga menjalankan peran dengan mempromosikan peningkatan parameter lingkungan dan mendorong penggunaan teknologi, serta perilaku yang ramah lingkungan dan sehat.Sedangkan Safety (keselamatan) sudah mencakup faktor keamanan, seperti keadaan bebas dari risiko, bahaya, pencemaran, ancaman, gangguan yang bersifat permanen dan non-permanen.

Kemudian fisik dan nonfisik di suatu tempat dan waktu tertentu untuk mengelola, melindungi dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat, pengunjung dan kualitas lingkungan.

Serta yang tidak kalah penting adalah zero waste management, di mana pengelola destinasi harus memiliki strategi dan penerapan kebijakan pengelolaan sampah yang baik. “Dengan begitu diharapkan pemulihan pariwisata ini dapat terwujud, destinasi dan industri pariwisata yang bersih, sehat, dan aman sehingga tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi wisatawan, pengelola, dan masyarakat,” pungkas Ni Wayan Giri Adnyani.

BACA JUGA  Virus Corona Mereda Italia Akan Buka Kembali 2 Bandara

Sumber : Dari berbagai sumber

Check Also

Tempat Wisata Berhantu Yang Ada Di Dunia

Di dunіа іnі tеrdараt tеmраt уаng mempunyai kisah mіѕtеrіuѕ dan mаѕа lalu mеnуеrаmkаn. Bаhkаn tempat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *